Modul MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH (Kelas X)

Posted: November 14, 2012 in SMALMAH
0
MODUL KELAS X (BAB I – II)
TAHUN AJARAN 2012-2013
BAB I: MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
A.  QS. AL BAQARAH: 30 (Manusia sebagai khalifah)
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 30)
Kandungan ayat
Ayat di atas berisi tentang dialog antara malaikat dengan Allah swt, tentang penciptaan manusia oleh Allah swt yang akan dijadikan sebagai khalifah di bumi. Pada dialog tersebut, malaikat bertanya kepada Allah swt, mengapa manusia yang dijadikan pemimpin (khalifah), padahal manusia memiliki sifat-sifat yang buruk, jika dibandingkan dengan sifat yang dimiliki malaikat.
Pada ayat ini Allah swt menjelaskan tentang sifat-sifat baik dan buruk yang dimiliki oleh malaikat dan manusia, yaitu:
  • Sifat baik malaikat: bertasbih ((نُسَبِّحُ, memuji  (بحمدك) , dan menyucikan Allah swt  (نقدس لك)
  • Sifat buruk yang dimiliki oleh manusia adalah : merusak (يفسد) dan menumpahkan darah ( يسفك الدماء)
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Khalifah ialah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya.
Dan untuk dapat melaksanakan tugas yang luhur tersebut, manusia diwajibkan selama masa hidupnya meningkatkan kemampuan jasmani dan rohaninya (akal, kalbu, dan nafsu) ke arah yang lebih maju dan positif. Dan yang terpenting adalah, manusia harus selalu ingat kepada Allah swt (Zikrullah), melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (Bertaqwa)
Kesimpulan dari ayat di atas adalah:
  1. Allah swt menginformasikan kepada para malaikat tentang rencana Allah swt menciptakan Adam (manusia) yang kedudukannya sebagai khalifah di bumi.
  2. Para malaikat belum mengetahui secara pasti , apa yang akan diperbuat manusia setelah rencana Allah swt terwujud.
  3. Allah swt Maha Mengetahui atas apa yang telah Allah swt gariskan pada takdir kehidupan makhluk-Nya.
B. QS AL MUKMINUN: 12-14  (tentang Proses Penciptaan Manusia)
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun : 12-14)
Kandungan ayat
  1. Penegasan Allah swt bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang asal kejadiannya dari saripati tanah. Dan ini telah membantah teori revolusi milik Darwin yang mengatakan manusia merupakan keturunan dari kera.
Dalam syariat Islam, diketahui bahwa ada empat model penciptaan manusia, (1), Nabi Adam (diciptakan dari tanah). (2). Hawa, (diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam as. (3). Nabi Isa, (diciptakan tanpa ayah), (4). Manusia pada umumnya, (diciptakan dari ayah dan ibu).
Dan berdasarkan ayat di atas, yang difirmankan Allah swt manusia terbuat dari saripati tanah, ternyata secara ilmu pengetahuan telah dibuktikan, dimana ketika seorang manusia di bakar, kemudian abunya diteliti, ternyata abu dari pembakaran manusia tersebut, memiliki unsur yang sama dengan tanah, diantaranya yaitu, Oksigen, Hidrogen, Zat Belerang, Zat Arang dll.
  1. Informasi dari Allah swt tentang proses kejadian manusia ketika masih berada dalam kandungan.
Al Quran dan Ilmu Pengetahuan tidak akan pernah berbenturan, keduanya selaras, salah satunya adalah bukti nyata dari proses kejadian manusia di rahim ((قرار مكين seorang ibu. Proses yang berururat tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Sel sperma ( (نطفة
2)      Segumpal darah   (علــقة)
3)      Segumpal daging (مضغــة)
4)      Tulang atau rangka (عــظام)
5)      Daging yang menyelimuti tulang (لحم)
6)      Bentuk manusia sempurna (خلقا اخر)
7)      Ditiupkan ruh  (احسن الخــالقين)
C. QS AD ZARIYAT: 56 (tentang Kedudukan Manusia dan Ibadah)
Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepadaku.” (QS Adz Zariyat : 56)
Kandungan ayat
Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT, karena makna dari ibadah adalah, taat, patuh, tunduk dan menurut. Pada ayat di atas, kata jin lebih didahulukan, karena dalam kenyataannya memang jin lah yang terlebih dahulu diciptakan dari manusia oleh Allah swt. dan dalam ayat ini hanya jin dan manusia saja yang di sebutkan, sedangkan syaitan, iblis, hewan, dan tumbuhan tidak disebutkan, hal ini dikarenakan jin dan manusia adalah makhluk Allah swt yang dapat berfikir, tentang baik dan buruk dalam kehidupan.
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk dan taat. Menurut istilah, ibadah berarti mengabdikan diri kepada Allah swt dengan jalan bertakwa. Ibadah dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Ibadah Mahdah, yaitu ibadah yang memiliki tata cara tertentu. Contoh: syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
2. Ibadah Gairu Mahdah, yaitu ibadah yang tidak memiliki tata cara tertentu. Contoh: mencari nafkah, berhusnuzan, belajar (menuntut ilmu), membantu orang tua, makan, tidur, dan lain-lain.
D. QS. AN NAHL: 78 (kewajiban manusia untuk bersyukur)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan, dan hati, agar kamu bersyukur”
Kandungan:
Manusia ketika pertama kalinya dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, atau tidak berilmu sama sekali. Kemudian Allah swt memberikan kepada manusia itu tiga karunia untuk dijadikan sarana mendapatkan ilmu, ketiga sarana tersebut adalah, (1). Pendengaran (السمع), (2). Pengelihatan (الأبصـار), (3). Hati (الأفئدة) dan tujuan Allah swt memberikan karunia ini adalah agar manusia mendapatkan kebaikan dari karunia tersebut, diantaranya untuk mendapatkan ilmu, oleh karena itu kewajiban manusia yang mendapatkan karunia Allah swt agar selalu bersyukur.
BAB II (KEIKHLASAN DALAM BERIBADAH)
  1. A.      QS. AL AN’AM: 162-163 (keikhlasan beribadah)


“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu baginya-Nya. dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri” (QS. Al An’am: 162-163)
Kandungan ayat:
  1. Menyerahkan hidup dan mati, dan segala ritualitas yang dilakukan hanya kepada Allah swt, dalam hal ini manusia harus menghambakan dirinya kepada Allah swt semata.
  2. Memelihara diri dari perilaku syirik (mempersekutukan Allah swt). seperti; menggunakan jimat, percaya dengan ramalan dan lain-lain. Dan perbuatan syirik adalah perbuatan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah swt, hal ini seperti yang difirmankan Allah pada QS. An Nisa’: 78
  3. Melandasi segala peribadatan atau ritualitas ibadah yang dilakukan setiap muslim dengan ikhlas, ikhlas yang memiliki arti adalah murni, suci dan bersih. Murni dari segala perbuatan syirik (menyekutukan Allah swt), suci dari perbuatan riya (memperlihatkan suatu perbuatan dengan tujuan sombong dan bukan karena Allah swt), dan bersih dari perbuatan sum’ah (memperdengarkan sesuatu dengan niatan ujub dan takabur, dan bukan di niatkan karena Allah swt.)
  1. B.      QS AL BAYYINAH: 5 (keikhlasan beribadah)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan suapa mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5)
Kandungan ayat:
Niat adalah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia untuk melaksanakan amal perbuatan. Dan niat harus disertai dengan keikhlasan yang tulus karena Allah swt. sebagai seorang muslim yang diperintahkan untuk beribadah kepada Allah swt baik ibadah yang bersifat mahdhah atau ghairu mahdha, maka agar perbuatan itu tidak sia-sia, atau tidak mendapatkan pahala, maka menjadi kewajiban seorang muslim menjadi sosok yang mukhlisin, yaitu manusia yang selalu ikhlas dalam beribadah. Karena Rasulullah saw, pernah bersabda, “Allah tidak akan menerima amal, melainkan yang didasari ikhlas karena Allah untuk mencari keridaan-Nya” (HR. Ibnu Majah)
Islam sebagai agama yang lurus   (دين القيمة)selalu memberikan aturan dan rambu-rambu demi kebaikan umatnya. Aturan-aturan tersebut bersifat mengikat di kehidupan dunia, tetapi akan memberikan sebuah kebahagiaan untuk nantinya di alam akhirat. Aturan yang terpenting dalam Islam adalah segala amal perbuatan baik itu yang bersifat ibadah ritual – shalat, zakat atau haji- dan amal perbuatan yang biasa dilakukan oleh manusia, misalnya makan, minum dan berolah raga, tetap dan harus didasarkan atas niatan kepada Allah swt, seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw, “setiap urusan yang baik (bermanfaat) yang tidak dimulai dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim maka terputuslah berkahnya” (HR. Ibnu Majah)
MODUL KELAS X (BAB I – II)
TAHUN AJARAN 2012-2013
BAB I: MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
A.  QS. AL BAQARAH: 30 (Manusia sebagai khalifah)
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 30)
Kandungan ayat
Ayat di atas berisi tentang dialog antara malaikat dengan Allah swt, tentang penciptaan manusia oleh Allah swt yang akan dijadikan sebagai khalifah di bumi. Pada dialog tersebut, malaikat bertanya kepada Allah swt, mengapa manusia yang dijadikan pemimpin (khalifah), padahal manusia memiliki sifat-sifat yang buruk, jika dibandingkan dengan sifat yang dimiliki malaikat.
Pada ayat ini Allah swt menjelaskan tentang sifat-sifat baik dan buruk yang dimiliki oleh malaikat dan manusia, yaitu:
  • Sifat baik malaikat: bertasbih ((نُسَبِّحُ, memuji  (بحمدك) , dan menyucikan Allah swt  (نقدس لك)
  • Sifat buruk yang dimiliki oleh manusia adalah : merusak (يفسد) dan menumpahkan darah ( يسفك الدماء)
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Khalifah ialah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya.
Dan untuk dapat melaksanakan tugas yang luhur tersebut, manusia diwajibkan selama masa hidupnya meningkatkan kemampuan jasmani dan rohaninya (akal, kalbu, dan nafsu) ke arah yang lebih maju dan positif. Dan yang terpenting adalah, manusia harus selalu ingat kepada Allah swt (Zikrullah), melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (Bertaqwa)
Kesimpulan dari ayat di atas adalah:
  1. Allah swt menginformasikan kepada para malaikat tentang rencana Allah swt menciptakan Adam (manusia) yang kedudukannya sebagai khalifah di bumi.
  2. Para malaikat belum mengetahui secara pasti , apa yang akan diperbuat manusia setelah rencana Allah swt terwujud.
  3. Allah swt Maha Mengetahui atas apa yang telah Allah swt gariskan pada takdir kehidupan makhluk-Nya.
B. QS AL MUKMINUN: 12-14  (tentang Proses Penciptaan Manusia)
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun : 12-14)
Kandungan ayat
  1. Penegasan Allah swt bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang asal kejadiannya dari saripati tanah. Dan ini telah membantah teori revolusi milik Darwin yang mengatakan manusia merupakan keturunan dari kera.
Dalam syariat Islam, diketahui bahwa ada empat model penciptaan manusia, (1), Nabi Adam (diciptakan dari tanah). (2). Hawa, (diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam as. (3). Nabi Isa, (diciptakan tanpa ayah), (4). Manusia pada umumnya, (diciptakan dari ayah dan ibu).
Dan berdasarkan ayat di atas, yang difirmankan Allah swt manusia terbuat dari saripati tanah, ternyata secara ilmu pengetahuan telah dibuktikan, dimana ketika seorang manusia di bakar, kemudian abunya diteliti, ternyata abu dari pembakaran manusia tersebut, memiliki unsur yang sama dengan tanah, diantaranya yaitu, Oksigen, Hidrogen, Zat Belerang, Zat Arang dll.
  1. Informasi dari Allah swt tentang proses kejadian manusia ketika masih berada dalam kandungan.
Al Quran dan Ilmu Pengetahuan tidak akan pernah berbenturan, keduanya selaras, salah satunya adalah bukti nyata dari proses kejadian manusia di rahim ((قرار مكين seorang ibu. Proses yang berururat tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Sel sperma ( (نطفة
2)      Segumpal darah   (علــقة)
3)      Segumpal daging (مضغــة)
4)      Tulang atau rangka (عــظام)
5)      Daging yang menyelimuti tulang (لحم)
6)      Bentuk manusia sempurna (خلقا اخر)
7)      Ditiupkan ruh  (احسن الخــالقين)
C. QS AD ZARIYAT: 56 (tentang Kedudukan Manusia dan Ibadah)
Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepadaku.” (QS Adz Zariyat : 56)
Kandungan ayat
Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT, karena makna dari ibadah adalah, taat, patuh, tunduk dan menurut. Pada ayat di atas, kata jin lebih didahulukan, karena dalam kenyataannya memang jin lah yang terlebih dahulu diciptakan dari manusia oleh Allah swt. dan dalam ayat ini hanya jin dan manusia saja yang di sebutkan, sedangkan syaitan, iblis, hewan, dan tumbuhan tidak disebutkan, hal ini dikarenakan jin dan manusia adalah makhluk Allah swt yang dapat berfikir, tentang baik dan buruk dalam kehidupan.
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk dan taat. Menurut istilah, ibadah berarti mengabdikan diri kepada Allah swt dengan jalan bertakwa. Ibadah dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Ibadah Mahdah, yaitu ibadah yang memiliki tata cara tertentu. Contoh: syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
2. Ibadah Gairu Mahdah, yaitu ibadah yang tidak memiliki tata cara tertentu. Contoh: mencari nafkah, berhusnuzan, belajar (menuntut ilmu), membantu orang tua, makan, tidur, dan lain-lain.
D. QS. AN NAHL: 78 (kewajiban manusia untuk bersyukur)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan, dan hati, agar kamu bersyukur”
Kandungan:
Manusia ketika pertama kalinya dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, atau tidak berilmu sama sekali. Kemudian Allah swt memberikan kepada manusia itu tiga karunia untuk dijadikan sarana mendapatkan ilmu, ketiga sarana tersebut adalah, (1). Pendengaran (السمع), (2). Pengelihatan (الأبصـار), (3). Hati (الأفئدة) dan tujuan Allah swt memberikan karunia ini adalah agar manusia mendapatkan kebaikan dari karunia tersebut, diantaranya untuk mendapatkan ilmu, oleh karena itu kewajiban manusia yang mendapatkan karunia Allah swt agar selalu bersyukur.
BAB II (KEIKHLASAN DALAM BERIBADAH)
  1. A.      QS. AL AN’AM: 162-163 (keikhlasan beribadah)


“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu baginya-Nya. dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri” (QS. Al An’am: 162-163)
Kandungan ayat:
  1. Menyerahkan hidup dan mati, dan segala ritualitas yang dilakukan hanya kepada Allah swt, dalam hal ini manusia harus menghambakan dirinya kepada Allah swt semata.
  2. Memelihara diri dari perilaku syirik (mempersekutukan Allah swt). seperti; menggunakan jimat, percaya dengan ramalan dan lain-lain. Dan perbuatan syirik adalah perbuatan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah swt, hal ini seperti yang difirmankan Allah pada QS. An Nisa’: 78
  3. Melandasi segala peribadatan atau ritualitas ibadah yang dilakukan setiap muslim dengan ikhlas, ikhlas yang memiliki arti adalah murni, suci dan bersih. Murni dari segala perbuatan syirik (menyekutukan Allah swt), suci dari perbuatan riya (memperlihatkan suatu perbuatan dengan tujuan sombong dan bukan karena Allah swt), dan bersih dari perbuatan sum’ah (memperdengarkan sesuatu dengan niatan ujub dan takabur, dan bukan di niatkan karena Allah swt.)
  1. B.      QS AL BAYYINAH: 5 (keikhlasan beribadah)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan suapa mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5)
Kandungan ayat:
Niat adalah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia untuk melaksanakan amal perbuatan. Dan niat harus disertai dengan keikhlasan yang tulus karena Allah swt. sebagai seorang muslim yang diperintahkan untuk beribadah kepada Allah swt baik ibadah yang bersifat mahdhah atau ghairu mahdha, maka agar perbuatan itu tidak sia-sia, atau tidak mendapatkan pahala, maka menjadi kewajiban seorang muslim menjadi sosok yang mukhlisin, yaitu manusia yang selalu ikhlas dalam beribadah. Karena Rasulullah saw, pernah bersabda, “Allah tidak akan menerima amal, melainkan yang didasari ikhlas karena Allah untuk mencari keridaan-Nya” (HR. Ibnu Majah)
Islam sebagai agama yang lurus   (دين القيمة)selalu memberikan aturan dan rambu-rambu demi kebaikan umatnya. Aturan-aturan tersebut bersifat mengikat di kehidupan dunia, tetapi akan memberikan sebuah kebahagiaan untuk nantinya di alam akhirat. Aturan yang terpenting dalam Islam adalah segala amal perbuatan baik itu yang bersifat ibadah ritual – shalat, zakat atau haji- dan amal perbuatan yang biasa dilakukan oleh manusia, misalnya makan, minum dan berolah raga, tetap dan harus didasarkan atas niatan kepada Allah swt, seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw, “setiap urusan yang baik (bermanfaat) yang tidak dimulai dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim maka terputuslah berkahnya” (HR. Ibnu Majah)
Alhamdulillahi Rabbil’alamin
Alhamdulillahi Rabbil’alamin

Komentar