IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

A.      Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Iman secara bahasa berarti percaya. Iman menurut istilah berarti mempercayai dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam perbuatan. Iman kepada kitab-kitab Allah SWT berarti mempercayai dengan sepenuh hati dan diucapkan dengan lisan bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab kepada Rasul-Nya untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Keyakinan tersebut diwujudkan dalam perbuatan dan tingkah laku sehari-hari.[1]
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT tidak hanya diyakini dalam hati dan diucapkan secara lisan, melainkan diwujudkan dalam perbuatan. Seseorang yang beriman kepada kitab Allah SWT tingkah lakunya berdasar pada isi kitab-Nya. Mereka senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.[2]
Selain percaya kepada Allah, orang yang beriman juga wajib percaya kepada kitab-kitab Allah, sebab iman kepada Allah SWT dan iman kepada Rasul-Nya menjadi satu kesatuan yang utuh.[3]
Allah SWT menurunkan wahyu kepada para Nabi dan Rasul, sebagiannya terkumpul dalam sebuah kitab, seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa, Zabur kepada Nabi Dawud dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab-kitab tersebut berisi informasi-informasi, aturan-aturan dan hukum-hukum dari Allah SWT untuk dijadikan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagian hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.[4]
Dari segi isinya terdapat persamaan yang ada pada kitab-kitab tersebut terletak pada aspek akidah atau keyakinan, yaitu tauhid atau mengesakan Allah. Sedangkan aspek-aspek hukum atau syariat mengalami perkembangan dari satu kitab ke kitab lainnya.[5]
Allah SWT telah menurunkan empat kitab kepada Rasul-Nya. Keempat kitab tersebut sebagai berikut:
1.    Kitab Taurat
    Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s. sebagai petunjuk dan pedoman bagi Bani Israel dalam menjalani kehidupan. Isi kandungan kitab Taurat meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.    Kewajiban meyakini ke-esaan Allah Swt.
b.   Larangan menyembah berhala.
c.    Larangan menyebut nama Allah Swt. dengan sia- sia.
d.   Perintah menyucikan hari Sabtu.
e.    Perintah menghormati kedua orang tua.
f.    Larangan berbuat zina.
g.   Larangan ingin (mendekati) berbuat zina.
h.   Larangan mencuri.
i.     Larangan mengambil hak orang lain.
j.     Larangan membunuh sesama manusia tanpa alasan yang benar.[6]
2.    Kitab Zabur
    Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud a.s. untuk dijadikan pedoman bagi umatnya. Isi kandungan kitab Zabur adalah sebagai berikut:
a.       Do’a
b.      Zikir
c.       Nasihat
d.      Hikmah
e.       Menyeru kepada ketauhidan
f.       Tidak berisi syari’at[7]
3.    Kitab Injil
   Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa a.s. sebagai petunjuk dan pedoman bagi umatnya, yaitu Bani Israel. Isi kandungan kitab injil sebagai berikut:
a.    Perintah kembali pada tauhid yang murni.
b.   Ajaran yang menyempurnakan kitab Taurat.
c.    Pembenaran terhadap kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
d.   Ajaran agar hidup sederhana dan menjauhi sifat tamak.[8]
4.    Kitab Al-Qur’an
      Kitab Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Al-Qur’an adalah kitab Allah terakhir yang menyempurnakan ajaran dalam kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diterima Nabi Muhammad SAW.[9]
     Al-Qur’an menempati posisi sebagai sumber utama dan pertama dari seluruh ajaran Islam. Selain itu, al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat. Al-Qur’an merupakan sumber hukum pertama dan utama. Sebagai sumber hukum, al-Qur’an berisi ajaran yang paling lengkap sekaligus membenarkan seluruh kitab sebelumnya. Al-Qur’an memuat tuntunan dalam persoalan-persoalan akidah, akhlak, syariah, dan budi pekerti. Al-Qur’an juga mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan hidup.[10]
B.       Perilaku Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah
1.      Beriman kepada Kitab-Kitab Sebelum Al-Qur’an
    Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an, yaitu kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Cara beriman pada ketiga kitab Allah Swt. tersebut berbeda dengan cara beriman pada Al-Qur’an. Cara beriman pada ketiga kitab Allah Swt. yang diturunkan sebelum Al-Qur’an sebagai berikut:
a.       Meyakini kebenaran yang terkandung dalam kitab-kitab Allah.
b.      Meyakini bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar merupakan wahyu Allah Swt. bukan karangan nabi dan rasul.[11]
2.      Beriman kepada al-Qur’an
    Penerapan beriman kepada al-Qur’an dapat dilakukan dengan cara seperti berikut:
a.    Meyakini bahwa al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT bukan karangan Nabi Muhammad.
b.     Meyakini bahwa al-Qur’an dijamin kebenarannya oleh Allah SWT tanpa ada keraguan sedikit pun.
c.      Mempelajari, memahami, dan menghayati isi kandungan al-Qur’an.
d.      Mengamalkan ajaran al- Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.[12]






C.       Hikmah Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah
Beriman pada kitab-kitab Allah SWT memiliki hikmah yang sangat banyak. Hikmah beriman pada kitab-kitab Allah SWT sebagai berikut:
1.     Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT yang telah mengutus para Rasul untuk menyampaikan risalah-Nya.
2.      Termotivasi untuk beribadah dan menjalankan ketentuan agama.
3.     Hidup menjadi lebih tertata karena adanya hukum yang bersumberkan pada kitab suci.
4.     Menumbuhkan sikap optimis karena telah dikaruniai pedoman hidup   dari Allah SWT untuk meraih kesuksesan baik di dunia maupun akhirat.
5.   Terjaga ketakwaannya dengan senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.[13]
Selain hikmah yang telah disebutkan, iman pada kitab-kitab Allah SWT memiliki fungsi sebagai berikut:
1.            Meningkatkan Kualitas Kehidupan Pribadi
   Iman pada kitab-kitab Allah SWT dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi. Kitab Allah SWT mengajarkan manusia agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.[14]
2.            Membangun Kehidupan Bermasyarakat
     Kehidupan bermasyarakat akan terbangun sebab anggotanya beriman pada kitab Allah SWT. Anggota masyarakat yang beriman pada kitab akan hidup tenang sebagai anggota masyarakat. Allah SWT tidak membedakan manusia berdasarkan status sosial maupun jabatannya. Dengan persamaan tersebut kehidupan masyarakat akan tenang. Masyarakat yang mengamalkan ajaran al-Qur’an akan menjadi masyarakat yang baik.[15]
3.   Menjalin Kerukunan dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara
    Warga negara yang baik akan senantiasa mengabdikan diri pada bangsa dan negara. Dia akan bertindak dan berbuat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sikap tersebut akan mudah diwujudkan jika dilandasi dengan keimanan pada kitab-kitab Allah SWT.[16]

















DAFTAR PUSTAKA
[1]Husni Thoyar, Pendidikan Agama Islam Untuk SMA Kelas XI (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional, 2011), 137. 
[2] Ibid.
[3] Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam (Palangkaraya: Erlangga, 2011), 17.
[4] Erwin Yudi Prahara, Materi Pendidikan Agama Islam (Ponorogo: STAIN Po PRESS, 2009), 115.
[5] Ibid., 116.
[6] Husni Thoyar, Pendidikan Agama Islam Untuk SMA Kelas XI, 138.
[7] Ibid., 139.
[8] Ibid., 140.                                                         
[9] Ibid., 140.
[10] Ibid.
[11] Ibid., 142.
[12] Ibid.
[13] Ibid., 143.
[14] Ibid., 144.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
http://lindangok39.blogspot.com/2016/04/makalah-materi-pai-smpsmasmk.html?m=1

Komentar